Judul: Pak Ujang dan Misi Menyelamatkan Sendal
Di sebuah kampung yang tenang, hiduplah Pak Ujang, seorang pria sederhana yang punya bakat luar biasa: menemukan masalah kecil lalu membesar-besarkannya sendiri.
Suatu pagi, Pak Ujang keluar rumah dengan wajah serius. Bukan karena ada rapat penting, bukan pula karena kehilangan dompet. Ia sedang mencari sendal jepit sebelah kiri.
“Mah, sendal saya yang kiri mana?” teriak Pak Ujang.
Dari dapur, Bu Ujang menjawab santai, “Coba cari yang kanan dulu.”
Pak Ujang terdiam.
“Iya juga, ya.”
Ia lalu mencari sendal kanan. Lima menit kemudian, sendal kanan ditemukan di bawah kursi. Namun sendal kiri tetap tidak ada. Pak Ujang langsung menyusun teori.
“Mungkin dicuri.”
Bu Ujang keluar sambil membawa spatula. “Siapa yang mau nyuri satu sendal?”
Pak Ujang menunjuk halaman rumah. “Jangan-jangan ada sindikat. Hari ini satu sendal, besok dua sandal, lusa lemari.”
Karena merasa kasus ini serius, Pak Ujang mengadakan investigasi. Ia memeriksa halaman, kebun, kandang ayam, bahkan bertanya kepada kucing tetangga.
“Kalau kamu lihat sendal saya, mengeong dua kali.”
Kucing itu malah menguap.
Pak Ujang mencatat, “Saksi tidak kooperatif.”
Saat sedang mencari di belakang rumah, ia bertemu Kang Dedi yang sedang menyiram tanaman.
“Lagi ngapain, Jang?”
“Mencari sendal.”
“Sendalnya warna apa?”
“Hitam.”
“Model?”
“Jepit.”
“Ukuran?”
Pak Ujang berpikir keras. “Ukuran… cocok di kaki saya.”
Kang Dedi mengangguk pelan. “Informasi sangat membantu.”
Mereka lalu mencari bersama. Anehnya, semakin dicari, masalahnya semakin rumit. Kang Dedi menemukan sendal anak-anak, sendal putus, sandal hotel, bahkan satu sandal yang tidak diketahui pemiliknya.
Pak Ujang langsung berkata, “Ini kampung ternyata punya sejarah persendalan yang panjang.”
Menjelang siang, warga mulai ikut penasaran. Pak RT datang membawa peluit. Mang Aceng membawa sapu. Bahkan anak-anak ikut mencari sambil berharap menemukan harta karun.
Setelah satu jam, Pak RT berdiri di tengah halaman.
“Warga sekalian, mari kita tenang. Yang hilang hanya satu sendal.”
Pak Ujang mengangkat tangan. “Betul, Pak. Tapi itu sendal kiri. Kalau yang kanan ikut hilang, baru kita tenang.”
Semua warga terdiam.
“Lho, kok begitu?” tanya Bu Ujang.
Pak Ujang menjawab mantap, “Karena berarti masalahnya selesai. Saya beli baru.”
Tiba-tiba terdengar suara Bu Ujang dari teras.
“Pak Ujang!”
“Apa?”
“Ini sendal kiri kamu.”
Semua orang menoleh.
Sendal itu ternyata dipakai Pak Ujang sejak pagi.
Pak Ujang melihat ke bawah. Benar saja. Kakinya memakai sepasang sendal lengkap.
Ia tersenyum tenang.
“Nah, berarti misi berhasil.”
Kang Dedi menghela napas. “Tapi dari tadi yang kamu cari apa?”
Pak Ujang menjawab sambil masuk rumah, “Saya juga bingung. Tapi yang penting warga jadi olahraga.”
Sejak hari itu, Pak RT membuat aturan baru: sebelum membuat kepanikan, warga wajib melihat ke bawah terlebih dahulu.
Dan Pak Ujang?
Sampai sekarang masih mencari kacamata.
Padahal kacamata itu sedang dipakai di kepalanya.
Komentar
Posting Komentar